Tanah Gersang Kepercayaan
Tanah gersang untuk mereka yang tidak mengerti soal cara menjaga
kepercayaan orang lain. Manusia memang selalu punya cara sendiri untuk
dikasihani orang lain agar mendapat simpati atau perhatian dengan tujuan yang
ia miliki. saya disini bermaksud menggali pemikiran kita selaku salah satu
mahluk hidup dengan kita melakukan cara menjaga kepercayaan orang lain terhadap
diri kita yang mungkin mudah dilakukan oleh semua orang dan menganggap ini tak
harus dibahas karena semua orang mampu melakukannya dan gampang bersandiwara.
Sebagaimana mestinya manusia dilahirkan ke muka bumi untuk bertahan hidup
dengan proses yang dilalui untuk menjadikan mimpi menjadi nyata. Dan, manusia
tidak bisa hidup tanpa bantuan dari orang lain atau hidup sendiri tanpa
berkaitan dengan orang lain, kehidupan selalu berada dengan proses orang lain,
karena kita adalah manusia. Spesies atau berkelompok.
Setiap orang memiliki cita-cita dengan berbagai macam warna dalam menjalani
hidup, terkadang impian kita bergonta-ganti karena seiring berjalannya waktu
yang mempengaruhi perkembangan yang ada pada diri kita. Maka dari itu, setiap orang memiliki
keinginan dengan berbagai cara yang ia miliki.
Berbagai macam pula ketika kita mencari perhatian dari orang lain, gampang.
Yang jadi permasalahannya,” kenapa sih kebaikan yang kita peroleh dengan cara
membantu orang lain akan berdampak kekurangan pada diri kita?” Padahal dengan
membantu orang lain menunjukan bahwa diri kita memliki kelebihan, walau tak ada
yang sempurna. Maksud saya dengan kata kelebihan,
bukan artian kelebihan hal-hal negatif, seperti yang lu kira.. pacar lu gendut
terus lu putusin, tanpa harus diusahain dulu buat bantu dia diet. Cinta itu
yang tulus bro, nanti juga tua loh..Ingat, pacar lu gendut itu tandanya dia
bahagia, yang harus lu pertanyain sama pacar lu, dia bahagianya karena apa.
Maaf, tapi saya tak bermaksud untuk menguatkan kegelisahan pada kalian yang
seperti itu, saya hanya mengantisipasi tanpa harus mengurangi rasa penasaran
yang ada pada diri setiap mahluk, sebab kucing aja punya rasa penasaran, jika
mencium rumah tetangga yang lagi bau masakan. Karena ia percaya kalau, jika ia
ke rumah itu pasti ia mampu menunda kematian, yang mungkin saja ia lapar.
Baik, kali ini kita mulai menemukan rasa sulitnya menjaga kepercayaan orang
lain, tapi dengan cara yang kita anggap sepele atau mudah untuk diperbaiki,
kita mengganggap itu tak perlu dibahas. Contoh kasus :
ΓΌ Teman meminjam barang
Ketika teman meminjam barang kita, pasti kita memiliki
pertanyaan untuk diri kita sendiri, terlebih yang ia pinjam dari kita adalah
barang yang di dapat dengan cara yang tak mudah, biasanya dari hasil nabung
uang jajan, atau bohongin ortu (jangan ditiru, adegan hanya dilakukan oleh anak-anak
kampret). Nah, ketika kita pinjamin
barang itu..
Contohya saya
pinjamin buku ke teman saya, terus buku yang saya dapat dengan tidak mudah dan
betapa harga bukunya juga mahal karena emang saya juga kere, internetan aja
pake wifi kampus. Maaf kalau ini curhat, lanjut. Terus terang saya merasa tak enakan jika tak
meminjamkan, terlebih yang minjam itu orang yang bermodal, dengan pulsa yang
tak pernah habis diponselnya. Dari situ saya bertanya, “kok bisa ya, mereka yang punya modal atau berduit itu masih aja pinjam
buku, padahal mereka kan bisa beli sendiri, data sama paketan aja bisa nambah
kalo habis, tapi kok buku malah minjem?” Tanya saya pada diri ini yang
kere.
Lalu, dengan rendah hati dan dibubuhi rasa
kepercayaan, saya memberanikan diri untuk meminjamkan. Lagian toh mereka orang
yang bermodal, pasti kalau hilang tinggal diganti, ahh sudahlah. Tapi saya
sebenarnya tulus soal meminjamkan barang, asal jangan pacar yang dipinjam.
Terus.. terdengar kabar buku itu menghilang, lebih mirisnya kabar itu saya
dapat lewat ketikan, bukan dari mulut seseorang yang saya anggap bermodal.
Ingin tak saya balas, tapi apalah daya jika hanya bermodalkan ketikan jari saya
juga pasti bisa, makanya saya balas chatnya dengan berpura-pura ikhlas. Lalu
dengan begitu yakinnya saya bahwa ia benar-benar panik pada saat itu, terus
minta maaf, terjadilah negosiasi “nanti saya usahain cari bukunya, siapa tau
ada sama teman saya (Miris). Yang minjem malah ngasih minjem juga. Aneh, pikir
saya.
Oke, barangkali saya ikhlas kalau soal itu yang
hilang, toh tidak ada yang abadi. Tapi yang jadi permasalahan, sebegitu
rendahnya pikiran soal menjaga kepercayaan orang lain, terlebih mudah untuk
minta maaf. Satu lagi, itu penulis buku itu susah loh nuangin segala pemikirannya
lewat buku, kebayang banyak waktu yang dipilah untuk rutinitasnya si penulis.
Toh, apa salahnya membeli buku yang bagimu bermanfaat dan menyenangkan, kalau
ujung-ujunya kamu beli data terus kamu galau malah ngestory pengen ada solusi
tapi tak ada yang respon, kamu tak dapat apa-apa, teman kampretmu dapat bahan
ngeledekin.
Kayaknya begitu saja dari saya. Mohon maaf apabila ada
yang merasa atau pernah ngerasaain. Sekedar saran dari saya, jangan
ngegasss.
"Untuk kalian yang masih merasa mampu untuk membeli, jangan ragu.
Untuk kalian yang mau minjam uang terus besok atau lusa pura-pura lupa jangan dungu.
Dan untuk kalian yang kere jangan malu, karena dari perbedaan kita bisa bersatu."
Makasih.
Wah, sy jadi teringat jaman dulu pinjem novel kawan, dan hilang. Masalahnya, novel yg dia punya itu novel foto copyan/bajakan, sy dah cari ke Togamas dan gada novel bajakan seperti punyanya. Endingnya, sy beliin novel original saja di toko bukunya, itung2 ngebahagiain penulisnya karena sudah sulit2 mencurahkan pikirannya di bukunya. #BertanggungJawabDanDapatDipercaya #Orkay #bangsad
BalasHapus